Benarkah Satpam Dan Cleaning Service Rangkap Kerja Jadi Tenaga Medis, Perlu Dipertanyakan

Ilustrasi

MEDAN [iNews24jam.id] – Sejumlah kepala puskesmas di kota medan diduga nekat mempekerjakan petugas kebersihan (cleaning service) dan petugas keamanan (Satpam) layaknya seorang petugas medis yang diduga diperbantukan untuk menyuntik dan menensi pasien yang berobat di puskesmas.


Tindakan itu dilakukan sejumlah kepala puskesmas di kota medan, pasca keluarnya surat dari kepala dinas kesehatan kota medan, Plt Dr. Mardohar Tambunan, M.kes. nomor 800/470.42/XII/2021 tanggal 14 desember 2021, Perihal pemutusan tenaga kontrak bantuan operasional kesehatan tahun 2021.


Menindaklanjuti hal tersebut, maka dinas kesehatan kota medan mengadakan rekrutmen tenaga kontrak sesuai dengan peraturan menteri kesehatan nomor 12 tahun 2021 dan berita acara hasil desk dinas alokasi khusus non fisik tahun anggaran 2022.


Namun kenyataannya dilapangan, masih ada ditemui sejumlah puskesmas di kota medan diduga malah mempekerjakan petugas cleaning service dan petugas keamanan (Satpam) bekerja rangkap layaknya seorang tenaga medis menyuntik dan menensi pasien di puskesmas. 


Informasi ini berawal adanya laporan masyarakat bahwa puskesmas rantang diduga mempekerjakan seorang cleanning service merangkap menjadi layaknya seorang petugas medis menensi dan  menyuntik. Mereka merasa kawatir jika terjadi sesuatu kepada pasien hingga berita ini sampai ke GlobalNews21.net, Sabtu (29/1/2022).


Berita ini juga sampai ketelinga Forum Redaksi Media Group Online, Kamis (3/2/2022) sore yang juga mendapat laporan dari masyarakat, terkait puskesmas sukaramai gang kantil di jalan arief rahman hakim Tegal Sari I Kecamatan Medan Area Kota Medan, juga diduga mempekerjakan tenaga non medis seperti satuan petugas keamanan (Satpam) rangkap tenaga medis menensi pasien berobat di puskesmas. Padahal di puskesmas sukaramai itu sendiri memiliki tenaga kesehatan (Nakes) .


Diduga kapus sukaramai dr Helen mempekerjakan seorang petugas keamanan (satpam) inisial AG merangkap menjadi layaknya seorang petugas medis, yakni menensi pasien mereka kuatir jika terjadi sesuatu kepada pasien, padahal nakes di puskesmas sukaramai masih ada hingga berita ini sampai ke Forum Redaksi Media Group Online.


Investigasi Tim Forum Redaksi Media Group Online kemudian mencoba menelusuri apa alasan kepala puskesmas sukaramai memperbantukan satpam menensi pasien.


Dari hasil konfirmasi Forum Redaksi Media Group Online dengan kepala puskesmas dr Helen melalui whatsapp telepon selulernya, Jumat (4/2/2022) siang, menyebut alasan bahwa Kapus Sukaramai tidak memperbantukan satpam rangkap sebagai tenaga medis, tapi pada saat pasien ramai atas inisiatif satpam dan tidak dibayar satpam tersebut melakukannya hanya untuk membantu nakes, puskesmas sukaramai gunakan alat tensi digital, jadi lebih mudah membaca hasilnya. ujarnya.


Disinggung terjadi keributan kemarin yang terlihat dari publik pembagian dana vaksin tidak merata kepada nakes. dr. Helen Kapus Sukaramai, mengatakan tidak benar nakes yang bergabung di tim vaksin ribut masalah pembagian dana vaksin. Pastinya ada nakes yang tidak dapat menerima nilai jumlah dana vaksin yang diberikan oleh Ka.Tim Vaksin Puskesmas Sukaramai, itu disebabkan karena tingkat pekerjaan. Yang kerja lebih banyak di Tim Vaksin pastilah lebih banyak memperoleh, jadi pembagian dana vaksin mana bisa merata. Ungkapnya. 


dr. Helen Kapus Sukaramai, menambahkan bahwa di Puskesmas Sukaramai memiliki 27 nakes, 6 Dokter Intensif, 1 Cleaning Service, Satpam, ditambah tenaga kontrak dan yang praktek dari pendidikan  diantara Akademi Bidan, Asisten Apoteker, SKM. tutupnya. [IFR]


Post a Comment

Previous Post Next Post