Sepenggal Kisah Nyata :Bu Julizar Dina (gadis kecil korban tsunami)

 Tiba-tiba gempa yang begitu kencang datang, tak lama setelah itu gempa susulan dan semua warga pada lari ke depan. Air laut naik kedaratan begitu cepat, saat itu semua orang berlarian sibuk menyelamatkan diri masing-masing. Julizar Dina menggandeng ibunya untuk berlari menyelamatkan diri. Namun dipertengahan jalan Bu Bertalina Achmad yaitu ibunya Julizar Dina tidak kuat lagi untuk berlari. "Ayo Bu kita lari lambat-lambat saja Bu, kamu saja yang lari nak, ibu sudah tidak kuat lagi" ucap Julizar Dina menjelaskan

Hari itu, Minggu 26 Desember 2004 pukul 07:58:53 WIB. Tiba-tiba terjadi tsunami di Banda Aceh. Memakan korban 230.000-280.000 tewas dan lainnya hilang. Julizar Dina adalah salah satu korban yang selamat dari tsunami tersebut. 

(Video : Peristiwa Tsunami Aceh 2004)

Sangat dramatis,.....Minggu pagi, selesai joging pagi Julizar Dina yang masih berumur 13 tahun harus mengikhlaskan keluarganya yang meninggal pada saat tsunami tersebut. Julizar Dina lahir di Aceh Barat di Meulaboh 21 Juli 1992. Beliau taman kanak-kanak di Meulaboh. SD di Tapaktuan dari kelas 1-5 SD. Khusus ayahnya yang  kerja dinas sehingga selalu berpindah-pindah tempat sekolah karena ikut ayahnya. Pada saat kls 6 SD setelah ayahnya pensiun beliau menetap di Banda Aceh bersama keluarganya. Sebelum ayahnya pensiun, keluarga beliau selalu berpindah-pindah di karenakan rumah dinas. Namun setelah pak Muslizar Puteh pensiunan, Julizar Dina mulai kelas 6 SD sampai 2 SMP beliau ikut ayahnya menetap di Banda Aceh. 


Dikarenakan hari Minggu waktunya bersantai, Pak Muslizar puteh sedang mencuci mobil di pelataran rumah, semua anggota keluarga Julizar Dina sibuk dengan aktifitasnya masing-masing. Tiba-tiba gempa yang begitu kencang datang, tak lama setelah itu gempa susulan dan semua warga pada lari ke depan. Air laut naik kedaratan begitu cepat, saat itu semua orang berlarian sibuk menyelamatkan diri masing-masing. Julizar Dina menggandeng ibunya untuk berlari menyelamatkan diri. Namun dipertengahan jalan Bu Bertalina Achmad yaitu ibunya Julizar Dina tidak kuat lagi untuk berlari. "Ayo Bu kita lari lambat-lambat saja Bu, kamu saja yang lari nak, ibu sudah tidak kuat lagi" ucap Julizar Dina menjelaskan kronologi perjuangannya menyelamatkan diri dari tsunami bersama ibunya. "Dina lari terus biar ibu sama bapak" tambahnya lagi saat ayahnya memintanya menyelamatkan diri.
Akhirnya Julizar Dina lari, sempat ia melihat ke belakang untuk memastikan ayah dan ibunya juga berlari. Julizar Dina sempat tenggelam beberapa kali kemudian dia memegang benda-benda yang terapung untuk menjadi alat pelampungnya. "Sempat waktu agak siang ada kapal, saya panggil untuk meminta pertolongan, namun kapal itu tidak mendengar saya karena jaraknya cukup jauh dari saya" ucap Bu Julizar Dina. "Akhirnya saya terdampar di tepian. Setelah saya bangun sekeliling saya mayat semua kecuali saya yg masih hidup, mayat-mayat itu berwarna hitam entah gara gara apa saya tidak tahu." Tambahnya lagi.

"Saat tsunami datang air laut itu mengalir seperti biasa tapi kencang, ada yg bilang air lautnya berbentuk seperti kepala ular dan ada juga yang air berdiri itu. Dan saya sepertinya dihempas oleh air yang berdiri itu, hangat dan warnanya hitam pekat" ucap gadis yang baru beranjak remaja pada saat itu (Julizar Dina)
Setelah tsunami itu selesai, warga yang selamat segera mencari keluarganya masing-masing. Saat itu Julizar Dina bertemu dengan Abang-abang yang sedang mencari ibunya. Ia bertanya kepada Abang itu dimana tempat orang-orang selamat, ia mau mencari keluarganya. Sembari menunggu Abang-abang itu mencari ibunya Julizar Dina memegang jeregen besar dan memakan pop corn yang dikasih oleh Abang itu. Jika sewaktu-waktu tsunami datang lagi ia bisa menggunakan jeregen itu untuk menjadi alat pelampungnya. Namun sayang nya abang itu tidak menemukan ibunya, akhirnya Julizar Dina dan Abang-abang itu menuju ketempat korban tsunami yang selamat yaitu di masjid raya.

Keluarga dari Julizar Dina yang meninggal dikarenakan tsunami tersebut ialah ayahnya yaitu Bapak Muslizar puteh Berumur 54 tahun, dan ibunya Bertalina Achmad berumur 45 tahun, saudaranya yaitu Shahrizal, Arie Rizka, Frillia Reziska dan kakak iparnya yaitu Sri Vivi Anita. 

Sempat bilang sama Abang-abang yang ngasih ia pop corn bahwa kalau saja ia tidak menemukan keluarganya, "Dina mau ikut Abang saja, ucap saya dengan polos waktu itu karena masih berumur 13 tahun" ucap Bu Julizar Dina. Namun tak lama setelah itu ia bertemu dengan abangnya nomor 4 yaitu Andrizal bersama keponakannya yang selamat dari bencana tersebut. 

Pasca tsunami ia hidup bersama saudaranya yang masih hidup yaitu kakaknya nomor 1 Liza Safrina dan abangnya nomor 4 yaitu Andrizal. Selain itu, anggota keluarganya meninggal. "Sedih rasanya kehilangan kedua orang tua secara bersamaan" Jelasnya. 2 bulan pasca tsunami sedikit-sedikit warga sudah mulai beraktivitas seperti biasa. Setelah kejadian itu ada trauma pada setiap korban tsunami tersebut, khususnya Bu Julizar Dina yaitu air laut, Sampai berbulan-bulan beliau tidak mau mandi, namun karena di bujuk terus dan di terapi oleh relawan Psikologi dari dalam maupun luar negeri yaitu dari Australia akhirnya ia mau mandi walaupun sebenarnya masih trauma.

Peran pemerintah setempat pasca tsunami tersebut ialah lebih banyak mendirikan gedung-gedung, sekolahan. Sedangkan renovasi rumah itu dibantu oleh LSM luar Aceh. Banyak sekali relawan-relawan yang berdatangan dari Medan, Aceh, dari luar negeri pun juga ada seperti Turki, Arab Saudi, dan banyak lagi. Mereka lebih khusus kepada pemulihan anak-anak pasca tsunami. Pemulihan psikologi untuk anak-anak di karenakan banyak anak-anak yang sebatang kara. Jadi mereka (relawan) lebih menghibur, lebih kepada kesehatan, Karena banyak korban yang menelan air, khusunya Bu Julizar Dina sampai sekarang jika batuk susah sembuhnya. saat melihat air laut ada trauma yang sulit untuk dihilangkan lantaran kejadian tsunami yang telah begitu banyak mengubah kehidupan Julizar Dina, ia menjalani kehidupan yang tidak biasa. Ada juga korban tsunami yg sampai depresi, tapi Bu Dina tidak sampai seperti itu karena ada support sistem terbaik yaitu keluarganya yg selalu menasihati Bu Dina bahwa hidup itu harus dilanjutkan.

"Sebenarnya penyembuhan diri sendiri itu ya motivasi diri sendiri, bahwa kehidupan tidak berhenti pada tsunami itu saja, masih ada kehidupan kedepannya" ucap Bu Julizar Dina.
Pasca tsunami tersebut Bu Julizar Dina pindah ke Medan ikut tante nya adik dari ibu Bertalina Achmad untuk melanjutkan pendidikan SMP. Setelah tamat SMP Julizar Dina pindah lagi ke Aceh barat daya untuk melanjutkan pendidikan SMA. Setelah tamat SMA ia memutuskan untuk pindah ke rumahnya di desa lampaseh, kecamatan meuraya banda Aceh. Rumahnya yang rusak dikarenakan tsunami tersebut telah di bangun oleh relawan disana, ia melanjutkan pendidikan S1 nya di Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh mengambil Jurusan kesejahteraan sosial di fakultas dakwah dan komunikasi.     
    
Selanjutnya sidang di tahun 2015, dan bertemu dengan bapak Juflizar di akhir 2016. Wajah pak Juflizar mirip dengan Muzammil hasballah seorang hafiz dan Qori asal Aceh, saya fikir pak Juflizar ini saudaranya Muzammil ternyata bukan hehe. Bu Julizar Dina yang tumbuh menjadi wanita yang kuat tanpa kedua orang tuanya kini telah menjadi istri sekaligus ibu. Saat itu Bu Julizar Dina masih menjadi staf, dan pak juflizar sudah menjadi dosen kontrak di fakultas dakwah. Januari 2017 mereka bertunangan, dan 1 Oktober 2017 menikah. Sekarang sudah mempunyai 2 Orang anak. Yaitu anak pertama laki-laki yang bernama Rayka Ikhwanul Hakim lahir pada 12-Agustus-2018 Dan anak ke dua perempuan yaitu Aranaya Hiza Zaldine lahir pada 27-Mei-2021.

Post a Comment

Previous Post Next Post