Resepsi Pernikahan Nanda R Tanjung Amd dan Mhd. Yusuf Chaniago SPd, Usung Konsep Adat Minang

MEDAN [iNews24jam.id] - Nanda R Tanjung Amd dengan Mhd. Yusuf Chaniago SPd melangsungkan resepsi pernikahan mereka di Jalan Bromo Kota Medan (Minggu, 5/6/2022) dengan  tradisi Adat Minang.


Nanda sang pengantin perempuan dan Yusuf pengantin laki-laki, adalah pasangan mempelai berdarah Minang. Pengantin pria terlihat gagah dan pengantin perempuan terlihat anggun dengan mahkota suntiang yang digunakannya.


Acara pernikahan ini di isi dengan tradisi adat minang yang di meriahkan melalui hiburan Kesenian Anak Minang Rantau (KASMARAN) sangat memberi hiburan dan nuansa mengingat anak  minang perantauan akan kampung halaman. Rangakaian hiburan yang dipersembahkan dimulai dari mengarak pengantin pria dengan alunan musik tradisional  Tambur, Tansa dan Talenpong yang menggunakan peralatan gendang merupakan tradisi urang minang dalam mengarak rombongan pengantin pria disertai pencak silat gelombang, dilanjutkan tari persembahan adat minang.


Setelah rangkaian hiburan konsep adat minang didalam memeriahkan resepsi untuk menghibur tamu undangan dari berbagai kalangan yang hadir di suguhkan Tarian Piring dan Tarian Daerah Tradisional hingga Tarian Kreasi Modern. 


Pelatih Tari Piring Sanggar Kesenian Anak Minang Rantau (KASMARAN) Sumatera Utara, Dedi Suherman Chaniago memaparkan bagaimana sinopsis Tari Piring dari sanggar yang dibinanya.


“ Tari Piring adalah tarian tradisional yang berasal dari Minangkabau, merupakan ritual dari rasa syukur kepada Sang Pencipta, atas hasil panen yang melimpah ruah. Pada saat melakukan ritual ini masyarakat membawa sesaji dalam bentuk makanan yang diletakan diatas piring, Piring-piring yang berisi makanan dibawa dengan gerakan-gerakan berirama dan diiringi dengan musik. Keunikan dari Tari Piring karena menggunakan piring sebagai alat utamanya dan akan terdengar suara dentingan dari kemiri yang dibentuk menyerupai cincin yang dipakai dijari tangan dan gerakan tari piring ini diambil dari langkah silat Minangkabau, “ jelasnya.


Masih menurut Dedi, para penari menggengam pring ditelapak tangan lalu piring diayun-ayunkan dengan cepat. Di akhir pertunjukan piring dilontarkan ke udara dan ditangkap kembali dengan gesit oleh para penari yang angun dan indah gerakan tariannya. [Ferry Suhendra]



Post a Comment

Previous Post Next Post